Pages

Tuesday, January 27, 2009

A Productive Girl in Unproductive Days

Saya masih muda dan masih produktif tapi beberapa hari ini saya hidup dalam hari-hari yang amat sangat tidak produktif.

Kira2 begini siklus kehidupan saya dalam tiga hari ini...

Bangun tidur jam 10 pagi. Setelah menunaikan 'panggilan alam', saya sarapan sepotonng roti. Seteah itu, kembali ke laptop. Ber-internet ria hingga sore menjelang. Tidak lupa diselingi shalat. Makan pun entah bagaimana. Makan siang jam 4 sore, makam malam jam 10. Selebihnya hanya internetan...

Ih! sebenarnya saya tidak suka seperti ini. Apalagi, banyak hal yang harus saya kerjakan. Sehabis liburan seminggu ini, semuanya harus selesai. Mulai dari persiapan presentasi, dua buah artikel sampai makeover newsletter. Dan saya belum ada menyentuh satu daer tiga hal itu.

Ya Allah berilah hamba-Mu ini mood untuk mengerjakan semua itu.Saya ingin meyiapkan tugas.................!!!

Ayo, Ananda! Jangan malas.....

Sunday, January 25, 2009

A Cat In The Lift

Ini bukan review bukunya Fahd Djibran tapi ini adalah luapan kekesalan terhadap mahluk bernama kucing.

Saya BENCI kucing, semua orang terdekat saya tau itu. Oh, maap, saya TAKUT kucing lebih tepatnya. Sebenarnya ini bermula waktu saya kecil dulu.

Satu siang hari yang cerah di kaki gunung Kerinci. Seekor kucing sedang tidur di depan pintu sebuah rumah. Tiba2 seorang anak kecil berambut keriting keluar dari rumah itu. Ia tidak senang dengan keberadaan si kucing, entah mengapa. Mungkin karena kucing itu berwarna hitam dan jelek. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus melakukan sesuatu", pikir si anak waktu itu.

Anak kecil itu pun mengambil serokan, tempat sampah yang bentuknya menyerupai cangkul. Dengan penuh keisengan serta rasa tidak suka, ia pun segera 'mencangkul' tubuh si kucing yang sedang tidur. Si kucing terkejut lalu terbangun. Si kucing menatap anak kecil itu lalu mencakarnya dengan gerakan yang masih disertai dengan keterkejutan Anak kecil itu juga terkejut dan segera lari ke dalam rumah lalu menangis sekencang-kencangya.

Sejak saat itu saya sangat takut akan kucing. Saya takut hewan jelek itu mencakar saya lagi.

Dulu saya sempat mikir kalau ada sedikit kucing di Penang. Pikiran yang bodoh. Ternyata selain bodoh, pikiran itu juga salah besar. Banyak kucing berkeliaran di negeri ini. Mereka ada dimana-mana, di tempat makan, di jalan raya, di kampus, bahkan di LIFT!

Emang keren sekali kucing2 disini. Tinggalnya aja di lift. Tidur di lift, duduk satai di dalam lift, dan buang hajat pun di lift! T***!!

Dua hari yang lalu, pas saya mau turun ke lantai 1, ada kucing lagi tidur di dalam lift. Kucing itu besar berwarna cokelat muda kekuning-kuningan. Hiiii....kaget, geli, dan tentu saja takut. Saya gak jadi naik lift yang itu.

Semalam, waktu saya mau naik lift lagi, udah ada taik kucing aja! Ih! pasti dia bangun tidur kemaren langsung boker!

Dan barusan, saya mau naik ift! Si kucing lagi duduk manis di dalam lift menyambut saya di depan pintu lift.

Damn it!

Saya BENCI kucing. Kenapa mereka harus ada di dalam lift? Lift yang sama pula! Saya gak mau lagi naik lift itu!

P.S: sebenarnya gak penting, cuma saya kesal aja!


Monday, January 19, 2009

Nayla

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Djenar Maesa Ayu
Buku ini sebenarnya udah terbit empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005 tapi saya baru membacanya sekarang. Hmmm…saya memang agak out of date. But, whatever, yang penting saya baca buku.

Novel ini sukses membuat saya menutupnya begitu selesai membaca halaman pertama. Saya langsung ciut membaca kalimat “……dan ketika peniti yang menurut Ibu sudah steril itu dimasukkan ke selangkangannya, ia mengapit rapat-rapat kedua pahanya. Terisak. Meronta. Membuat Ibu semakin murka.”

Tapi saya kembali membuka buku karena penasaran. Halaman2 berikutnya adalah cerita yang tidak jauh2 dengan selangkangan. Selama membaca saya ngeri tapi sekaligus geli membayangkan setiap adegan.

Sepertinya cerita dalam novel ini ada kesamaan dengan buku Djenar yang “Mereka Bilang Saya Monyet”. Tentang anak perempuan yang tinggal bersama ibunya yang suka pacaran. Yang ditinggal ayahnya sewaktu masih kecil dan tidak diizinkan mengenal ayahnya. Dan pastinya, yang dicabuli oeh pacar ibunya.
Saya melihat novel ini bukan dari sisi setiap adegan seks yang diceritakan. Saya melihat novel ini sebagai gambaran kehidupan. Saya yakin cerita2 seperti dalam novel ini dan karya2 Djenar yang lain memang mungkin terjadi di dunia nyata.
Dalam novel ini terselip nilai2 seperti bagaimana seorang anak kecil harus ‘deal with’ keadaan yang ada. Cara orangtua mendidik anak yang salah membuat anak jadi takut mengeluarkan pendapat. Tujuan orang tua baik tetapi kalau caranya salah malah membuat anak terganggu jiwanya.
Kehidupan luar yang keras juga tergambar dalam buku ini. Bagaimana setiap individu lagi2 harus ‘deal with’ keputusan masyarakat. Harus memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Pemahaman masyarakat tentang wanita yang harus pintar memuaskan lelaki habis-habisan dibicarakan melalui jalan cerita. Jelas terlihat kalau ada unsur pemberontakan atas pemahaman masyarakat yang bisa membuat setiap individu jadi sakit jiwa.

Intinya, buku ini cukup memberi gambaran kalau hal2 seperti itu ada. Saya juga merasa penulis ingin agar orang2 khususnya orang Indonesia lebih terbuka dalam urusan yang satu ini (seks-red). Pelecehan seksual terhadap anak harusnya segera ditindaklanjuti bukannya malah ditutupi. Karena hal itu bukan saja aib keluarga tetapi juga aib si korban. Dan tentu saja, akan selalu menghantui si korban yang mungkin akan mengganggu jiwanya.

Saya pun semakin gemar dengan karya2 Djenar Maesa Ayu walaupun harus ngeri plus geli setiap membacanya.

Keep reading, people…=)

Monday, January 12, 2009

Gadis Penjaga Warnet

Pekerjaan baru saya selain kuliah semester ini adalah jaga warnet, cc (cyber cafe), biasa orang sini menyebutnya.Yah, cuma sekali seminggu sih, setiap hari Senin. Shiftnya dari jam 9-12 malam.

Saya juga gak tau jagain warnet ini dibayar atau enggak. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu ya ikhlas aja jagainnya. Hehehhee.....

Warnetnya juga di dalam asrama, tinggal turun ke lantai B1 aja. Lagian, ini juga sebagai bentuk kerjasama Exco2 Majlis Penghuni Desasiswa Restu. Accidentally saya masuk ke jajaran exco2 ini. Wew!

But, never mind, saya tetap bisa mengerjakan tugas ini.

Saturday, January 10, 2009

Capek, Stress, dan Sok Eksis!

Hari kesepuluh di tahun 2008.

Pulau Pinang masih seperti biasa. Siang hari panasnya minta ampun plus angin yang kencang dan kering. Malam hari angin makin kencang disertai udara dingin. Jadilah kipas angin di kamar cukup nomor 2 aja. Itu pun kadang2 tetap saja dingin padahal udah pakai selimut. Hhhh....

Apa yang saya rasakan di awal tahun ini?
Jawabannya ada dua. Capek dan stress.

Capek karena semester ini tiap hari saya ada kuliah. Satu hari tiga kelas pulak! Adoado.... Malah hari Rabu ada empat.

Stress karena tugas kuliah juga gak kalah banyak. Hhhh....

Jadi orang2, maap2 aja kalo saya kurang eksis di dunia maya semester ini...
(sok eksis kau ndok!)

Ya Allah...berilah hamba-Mu ini kekuatan. Kasihanilah hamba-Mu ini yang makin hari badannya makin menyusut dan rambut semakin kacau balau....=(

P.S: hey, i got voice recorder, finally! sekalian mp3 payer juga, Hehehe...setelah nabung cukup lama, ditambah kesialan karena ringgit semakin naik!

Hhehhee....meriah gitu kan, warna merah..=p