Pages

Monday, March 26, 2012

Rambling #6

Sudah minggu keenam untuk semester kedua. Optimisme semakin menipis. Saya heran mereka pergi kemana. Ah, sudahlah. Mungkin mereka bosan dengan saya. Saya juga sedang malas mencarinya. Biarkan saja kegundahan berujung isak tangis di bawah selimut menemani saya malam ini.

Sebenarnya bukan malam ini saja. Mungkin hampir setiap malam selama semester ini. Tapi yang paling saya heran adalah kenapa harus saya tulis di sini? Toh tidak ada yang perduli. Ya sudah, tidak apa. Dunia maya dan dunia nyata sekarang tidak jauh berbeda. Memang tidak ada yang benar-benar perduli. 

Akhir-akhir ini ketakutan demi ketakutan sering sekali menghampiri. Ketakutan jenis ini memang sering muncul tapi kali ini instensitasnya sungguh tidak normal. Ini sekolah bisa selesai gak ya? pertanggungjawaban ilmu mana? gimana caranya menghasilkan uang instead of cuma menghabiskan uang orang tua? kenapa jadi susah sekali menulis dengan bahasa Inggris yang baik dan benar khas para akademia? dan kemana kemampuan bahasa Malaysia? dan yang paling menyedihkan, kenapa struktur bahasa Indonesia semakin tidak berperikemanusiaan? 

Mungkin satu-satunya penghibur sebulan belakangan adalah kunjungan kakak weekend yang lalu. Akhirnya bisa berkeluh kesah secara nyata tanpa perantara sinyal komunikasi yang kadang bikin emosi. Hhhhhh....andai saja hidup itu cuma tentang membaca buku, menonton film atau serial televisi, mendengar lagu seharian sambil tidur-tidur seharian, dan makan cheesecake tanpa harus takut jerawatan. 

Hah! ini namanya apa ya? 20 something life crisis? Alamak! yang benar saja. Saya sungguh tidak rela mengingat umur. Dua puluh dua tahun memang bukannya tua, tapi juga tidak muda. Sepertinya di umur dua puluh dua tahun  seseorang terlalu muda untuk menyerah tapi terlalu tua untuk hanya bersenang-senang tanpa arah. 

Saat-saat seperti ini yang namanya quote motivasi tidak pantas didengar, karena malah membuat semakin depresi. Saya juga bingung apa yang harus dibuat. Ini bukan PMS. Syndrom apa masa sampai enam minggu. Well I know that the solution is in me. Tapi apaaa????

Baiklah, sebelum tulisan ini makin random, ada baiknya kembali pada bacaan yang sudah empat jam lebih tidak berganti halaman. Seriously, it's too much. Semacam tidak mungkin, tapi harus. Boleh nangis di bawah selimut lagi malam ini? Please. 



Monday, March 12, 2012

Lupa

mungkin kepala ini harus sering diisi informasi baru supaya yang sudah usang bisa tergantikan. tapi yang membuat  susah adalah ketika informasi baru tadi ternyata malah memaksa kita mengorelasikan dengan pengalaman kita sebelumnya. yah, sejenis teori asosiasi lah istilahnya. ah, apa itu. nah, itu datang dari memori lamaku. duh, apa ya istilahnya? aku lupa. ah, andai melupakan masalah semudah melupakan istilah itu. melupakannya tanpa rasa bersalah. kalau lupa ya lupa saja.

aku sering merasa iri melihat mereka yang mudah sekali melupakan. entah benar lupa atau cuma pura-pura tidak ingat. entahlah, yang jelas aku iri. mungkin mereka yang cepat lupa punya banyak tempat baru untuk diisi memori baru. atau mungkin mereka yang susah melupakan punya tempat yang jauh lebih besar karena bisa mengisi informasi baru sambil terus menyimpan cerita lama dalam kamar-kamar otaknya. hebat. oh, kalau begitu sebaiknya aku tidak usah iri. 

Thursday, March 8, 2012

aku rindu kamu malam ini

aku rindu kamu malam ini

rindu percakapan tolol kita
rindu menjawab pertanyaan bodohmu
rindu kamu menjawab pertanyaan tidak pentingku

aku rindu kamu malam ini

rindu pesan singkatmu di pagi hari
rindu telepon tiba-tibamu malamnya

aku rindu kamu malam ini

rindu ajakanmu berkeliling kota
rindu jalan kaki tengah malam kita
rindu genggaman tangan kita

aku rindu kamu malam ini

rindu kecupan singkatmu
rindu pelukan hangatmu

ah, aku rindu kamu malam ini

kamu?