Pages

Tuesday, April 24, 2012

Kita Jumpa Lagi

hey, kita jumpa lagi
berbagi kisah seperti biasa
tanpa tanah dan air memisahkan

hey, kita jumpa lagi
seperti saudara yang sudah terpisah jauh
seperti dua sejoli yang lama memendam rindu

hey, kita jumpa lagi
untuk kesekian kalinya
tanpa berpikir
tanpa menerka
tentang seonggok rasa di dalam sana

hey, apakah kita akan jumpa lagi?

Tuesday, April 17, 2012

The Question Is "Why", The Answer is...

Firstly, I have to say this : tonight is the most interesting class after all these sessions. This subject is called Qualitative Research Method and it has been taught for about nine weeks. (OMG! I just realized that this is the tenth week of the semester!!)

And now I'll go to the exact thing I want to say...

So, last night (yeah, as I write this piece, it's already 12am. hehe), we taught about research writing. The lesson is about the process of writing thesis, what are the elements of it and how to do those things. But I think the most interesting part of the class is the beginning of the session. 

So, before she began the lesson  the lecturer asked us this a truly, madly, deeply question: "Why do you want to do a research?" I was like...Oh, My God! this is a core question that have ever crossed my mind and I just avoided to think it deeper (just like I do with some of my thoughts. well, I'll go into that some other time). 

My friends of course came out with different answers. One said "because I want to know....bla bla bla...his/her research topic." And other said "because I want to make a contribution to my country..." or "I want to know more and explore about this field."

And when she asked me, "So,Ananda, why do you want to research?" and innocently I answered, "because I'm so interested in this communication field and it seems interesting and cool." Then my lecturer said, "interesting and cool?", I answered back, "Yeah, (grinning)."

Then I keep talking to my self after that. Yes maybe I was too naive thinking that doing research is something interesting and cool. In fact, after I learned last semester, to do research is still interesting but, cool? hmm...I might say...yes and no. 

Yes because I think, it is cool when you find an interesting topic, play with theories and try to questioned something, read a loooot about it, try to answer those questions with some complicated methodology, and in the end, you may be find something that you don't event expect to find. 
On the other side, I think, no, it's not cool. Because, hellooo....it's not really a problem so what the hell are you doing? wasting your time questioning and answering something about things that people don't even look at?! 

About the 'unimportant thing', based on the what the lecture, when you can convince people that this issue is a really prominent one, then our research could be accepted.  Accepted, in terms of yes, people may not be understand well about your topic but at least, your courage and effort to do this thing is counted. This reminds me of when one of my lecturer said last semester "Research is about convincing people". Yeah I slowly get into understanding that phrase well. 

Whatever it is, maybe doing research is interesting and cool in its own way. But one thing I notice about doing research is that doing research is knowing your self better. If you think you can handle your topic, then go ahead. If you think you can not but you are not sure, then minimize your scope, seek some helps. If you think you can not, think again, why do you think you can not? maybe because you think you can't. So, think of that you can. 

In my short period of learning time, I faced difficulties that I think I can't handle in the first time and definitely will face bigger problems after this. But observing people's surround and listening to their problems makes me think that we actually can handle ourselves. We just need to learn that. The 'everything is gonna be alright' is SUCKS but yeah, we will see that eventually. 

And just like doing research, when we know well what we study, then the examiner wouldn't ask many questions, means they understand, and then our thesis will pass. So, in life, I think we just have to know well what we want to do and go for it. Convince people that we can. The difficulties will absolutely came along the process and it will be okay in the end. As John Lennon said, "If it's not okay, then this is not the end." And if it's not the end, then we have to keep moving. 

So, Ananda, why do you want to do a research? because I want to and I think I can do it. Really, why you want to do a research,? because, I WANT TO GRADUATE !!! :)))))))

Saturday, April 14, 2012

Grad School Is....Whatever.

Jadi ceritanya saya lagi stress berat sama pendidikan tinggi yang sedang saya jalani ini. Kadang ya saya suka mikir sebelum tidur, "what the hell was I thinking, getting into graduate school?". Saya tidak menyangka mau dapat gelar Master of Arts itu sungguh gak ada seninya, atau mungkin nilai seninya terlalu tinggi sampai saya gak ngerti, ehm, belum ngerti mungkin. 

Oiya, banyak yang nanya sebenarnya saya ambil jurusan apa sih di sini. Baiklah, sini saya jelaskan. Saya mengambil jurusan Komunikasi, sama seperti jurusan waktu saya degree (S1) dulu. Kenapa saya ambil jurusan ini? Alasan pertama adalah biar sama aja sama yang dulu. Kedua, tentu saja, saya cinta sama ilmu ini. Walaupun ilmu komunikasi menurut saya adalah bidang studi yang super galau dan agak serakah. Kenapa? karena semua dipelajari, mulai dari psikologi, sosiologi sampai bahasa. Serakah, ya karena banyak konsep dari ilmu-ilmu tadi yang diambil dan diadaptasi plus dipelajari dalam bidang komunikasi. 

Betapapun galau dan serakahnya ilmu komunikasi, pada dasarnya saya suka belajar komunikasi. Banyak yang berkomentar ketika tahu saya kuliah komunikasi. "'komunikasi belajar apa sih? mau jadi wartawan ya? "ntar abis kerja dimana?" Yah, ilmu komunikasi memang gak seterkenal kedokteran dan juga gak sekeren ekonomi, tapi komunikasi banyak melahirkan orang-orang keren. Eyaaaak...mulai narsis. 

Okay, kembali ke topik. Jadi, di tempat kuliah saya ini, jurusan Komunikasi untuk Graduate School atau Master's Degree ada tiga spesifikasi. Pertama, Communication, yang saya ambil, kedua, Environmental Journalism dan terakhir, Screen Studies. Untuk jenisnya, School of Communication menawarkan tiga jenis : research, coursework dan mixed-mode. Research maksudnya full penelitian, jadi untuk bisa tamat, mahasiswa gak perlu repot-repot datang ke kelas, cukup berkutat sama penelitiannya. Coursework pula, lebih menekankan projek dan tugas-tugas lain. Sistem kuliahnya mirip waktu ambil degree dulu. Ada kelas dan ujian akhir semester. Ada juga penulisan thesis, tapi bobotnya tidak setinggi yang dull research. Yang terakhir adalah mixed-mode. Wah, namanya saja sudah mixed, campuran. Campuran research dan coursework. Semester pertama kuliah harus mengambil bebrapa subjek lalu setelahnya, melakukan penelitian. 

Nah, yang terakhir adalah sistem yang saya ikuti sekarang. Mixed-mode, seperti namanya telah mencampuradukkan isi kepala saya. Sampai sekarang saya masih takjub karena saya bisa melewati semester lalu dengan hasil yang cukup memuaskan. Semester lalu ada dua subject (mata kuliah) yang harus saya ambil, dan semester ini, satu subject plus thesis. Duh, yang terakhir itu sungguh bikin merinding. Bukan apa-apa, saya sama sekali tidak punya pengalaman berkutat dengan thesis. Dulu waktu degree, syarat kelulusan adalah FYP (final year project) yang lebih kepada tugas (membuat berita dan artikel serta paper seminar). Tidak ada yang namanya research question, objectives, hypothesis aataupun literature review. 

Saya harus mengakui kalau proses belajar sebagai mahasiswa master sungguh tidak mudah. Pressurenya beda, suasana kelasnya apalagi. Dalam kelas setiap orang membawa diri masing-masing, punya tujuan berbeda dan dengan pengalaman serta masalah hidup yang beda pula. Teman sekelas saya bukan lagi anak-anak yang dalam kelas kerjanya baca majalah dan bergosip di bangku paling belakang, lalu keluar kelas sambil tertawa riang lalu ramai-ramai makan siang di sekitar kampus atau di luar kampus. 

Sekarang, tiap pulang kelas (yang isinya hanya beberapa orang dan didakan di malam hari) selalu mikir "duh, gimana ya itu yang barusan dipelajari aplikasinya ke thesis?" atau "oiya, tugas yang itu belum siap, jurnalnya belum siap dibaca, referensi masih kurang kayaknya." Lalu pulang ke kamar, sampai di kamar udah ngantuk. Lalu tidur sebenatar dan terbangun pagi buta, membaca dan mencoba menulis. Kadang ketika pagi buta saya terbangun dan berhadapan dengan segala jurnal dan textbook saya masih terbersit "what the hell am I doing?". 

Salah satu dosen saya pernah bilang "grad school is actually a very lonely process of learning". Oh, yes it is! kemana-mana sendirian, mulai dari makan, ke perpus, buat tugas, bahkan tak jarang ngomong pun sendirian. Eh, kok jadi seram ya? :P 
Well, sebenarnya bisa saja tetap berkomunikasi dengan teman sekelas, saya pun tetap melakukannya, untuk sekadar bertanya soal kuliah atau menghindari kegilaan, setidaknya saya berinteraksi dengan orang, bukan dengan buku dan laptop saja. 

*sigh* 

Tapi harus saya akui juga sebenarnya hidup saya sekarang tidak se-pathetic itu. Saya masih bisa mencari hiburan saya sendiri kok, seperti mengisi teka-teki silang di sela-sela membaca jurnal, menonton drama Korea sembari membuat tugas (yang biasanya lebih lama nontonnya daripada nulisnya), membaca novel atau majalah di perjalanan menuju perpustakaan. Dan tentu saja, nge-tweet aneh-aneh. :))

Oiya, hiburan baru saya adalah PhDComics, sebuah website yang isinya comic strips tentang kehidupan para mahasiswa postgraduate. Dan ini adalah dua postingan favorit saya: 



Maka, saran saya untuk teman-teman di luar sana, berpikir lah matang-matang untuk meneruskan pendidikan. Dan untuk adik-adik yang masih kuliah S1, bersenang-senanglah, nikmati waktu kalian. Kuliah degree adalah masa-masa kuliah paling indah. 

P.S : ini bukan posting tentang penyesalan, tapi ini naskah curhat dan penghibur diri sendiri. :D 

Wednesday, April 11, 2012

Home

Sebenarnya saya gak ada rencana pulang sama sekali di liburan mid semester ini. Malah pengen jalan-jalan sendirian ke Kuala Lumpur. Tapi telepon Ayah minggu lalu mengubah segalanya. 

Ayah : "Dek, Abang pulang lho Kamis ini."
Saya : "Ngapain dia Yah? gak kerja dia?" (dalam hati iri setengah mati, jadi pengen pulang)
Ayah : "Kan di sini libur Paskah...long weekend. Adek gak mau pulang?"
Saya : "Hmmm....pengen sih, lagian Nanda libur midsem seminggu, tapi Nanda banyak tugas Yah." (dalam hati ngarep disuru pulang)
Ayah : "Gak apa lah, pulang bentar. Ayah rindu. Ayah bayarin lah tiketnya"
Saya : (loncat-loncat kegirangan, apalagi denger tiket bakal dibayarin) "Hmmm...bolehlah kalo gitu. Nanda cari tiket."
Ayah : "Nah, gitulah. Gak usah bilang Mama. Biar kejutan."
Saya : "Oke, siap Yah!"

Maka, detik itu juga saya nyari tiket paling murah, dan Alhamdulillah dapat. Karena saya malu tiket aja dibayarin Ayah, jadi saya memutuskan untuk pake duit sendiri aja. Hehe. 

Dan voilaaa! Sampai di rumah si Mama dan Kakak kaget setengah mati lihat saya ikutan pulang. Yeaaaay! Home is the best therapy emang. I wasn't feel good for the past two months and when I reached home, it felt soooo good. :)
Walaupun cuma sebentar, yang penting bisa ngumpul, lengkap berlima, ayah, mama, abang dan kakak. Thanks, God! 
Hehehe...sesi foto dadakan. wah, kelakuan gak mencerminkan  umur  20an ya...-_-
And now here I am back in Penang...to face the reality. Dear, God please keep my family safe wherever we are and give us the best things in our lives.:) 

Selamat Jalan, Budi!

Tadi sore ketika saya sedang membereskan kamar, saya mendapat kabar mengejutkan sekaligus menyedihkan. Teman saya, Budi Andana Marahimin meninggal dunia karena leukimia yang dideritanya. 

Saya tidak ingat dengan pasti kapan pertama kenal Budi. Yang jelas, waktu SMA. Saya tidak terlalu sering bicara dengannya. Cuma sekadar say hello and goodbye. Masuk  kuliah malah lebih sering ngobrol lewat facebook atau YM. Dan sering ketemu Budi kalau saya pulang ke Medan. 

Buat saya, Budi adalah teman yang berbakat dan punya keinginan serta passion yang besar untuk memajukan kota Medan. Walaupun saya suka kesal karena Budi kadang annoying. Maaf ya Budi...:( Saya juga suka sekali hasil-hasil jepretannya yang menurut saya sangat keren. Budi bisa buat objek yang biasa-biasa saja jadi foto yang luar biasa dalam. 

Saya bukan teman dekat Budi, hanya saja kebetulan sering berhubungan dengan Alamrhum. Yang saya tahu Budi punya ambisi jadi Menteri Komunkasi dan Informasi. Hhhhh...sepeninggal Budi, siapa ya anak muda yang punya cita-cita seperti itu?:( 

Saya benar-benar tidak menyangka Budi punya penyakit leukimia. Selama ini sepertinya dia sehat-sehat saja. Terakhir saya ketemu dia itu di nikahan teman SMA kami dan dia terlihat sehat-sehat saja. Kami sempat ngobrol banyak dan foto-foto (yang belum sempat saya minta fotonya). Tapi kata beberapa teman memang dia sudah lama tau tentang penyakitnya itu. 

Yang paling saya ingat tentang Almarhum adalah waktu saya kehilangan laptop dan hardisk saya tahun lalu, and I was so depressed about that. He told me "Ndok, ada hal-hal yang Allah suka tapi kita gak. Dan sebaliknya." Waktu itu seperti biasa, saya berkomentar "Ciyeee...maut kali kalimatmu Bud." Tapi sekarang saya mikir, Ya Allah...he really mean it when he said that. 

Sebelum meninggal, Budi sempat dirawat di rumah sakit Lam Wah Ee Penang. Dan saya dapat kabar tersebut hari Jumat lalu, ketika saya pulang ke Medan. Setelah saya kembali ke Penang hari Selasanya, ternyata Budi sudah dipulangkan ke Medan dan dirawat di RS Materna. Satu hal yang saya sesalkan adalah tidak sempat menjenguknya waktu sakit dan sekarang saya tidak bisa melayat ke rumah duka. 

Apapun itu, saya cuma bisa berdoa supaya Budi diampuni dosa-dosanya dan diterima di sisi Allah SWT. Cuma doa yang bisa saya kasih dari jauh. Buat teman-teman, maafkan semua kesalahan Almarhum dan mari sama-sama berdoa buat Budi. Saya yakin ini semua adalah yang terbaik buat Budi. Dan untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan. 

Btw, ini foto saya hasil jepretan Budi. Waktu itu Budi main ke kantor dan saya maksa dia buat foto saya karena saya obsesi foto-foto di atas genteng. Pas lagi sesi foto kami dimarahin sama bapak-bapak tetangga depan. Oh, good old days. 

beberapa foto saya, hasil jepretan Budi
Selamat jalan, Budi!