Pages

Monday, April 29, 2013

Balada Ponsel


*lagi kerajingan kata 'balada'

Hari ini adalah hari bersejarah dalam kehidupan per-ponsel-an saya. Dari dulu saya punya handphone memang jarang berakhir bahagia atau mengharukan. Biasanya berakhir tolol nan menyedihkan.

Mari flashback ke zaman kelas dua SMP, pertama kali saya dibelikan handphone oleh orangtua saya. Adik-adik, zaman akak sekolah dulu, punya handphone gak semudah sekarang ye. Dulu akak minta handphone caranya begini:

“Yah, kalau rapot bulanan yang bulan ini ranking 1, beliin handphone boleh ya?”.

“Emang Adek mau handphone buat apa?”

“Hmm...biar enak bisa nelepon-nelpon sama sms.”

(gak dijawab)

Tibalah saatnya pembagian rapor bulanan. Yeay! Singkat cerita, handphone Nokia 2100 berwarna biru pun di tangan. Itu dulu lagi ngetop, soalnya handphonenya cantik dan lampunya sangat terang. Handphone senter, lewaaaat!!
Nokia2100, gaul karena bisa naro foto di belakangnya
Akhir hayat handphone itu saya tak ingat tapi yang jelas ada cacat di layarnya. Bukan tergores, tapi terkelupas. Entah saya apakan benda itu.

Tiba-tiba handphone saya udah Sony Erricson. Waktu itu ayah mau beli handphone baru jadi saya dikasi yang bekas. Tidak apa. Lagian saya suka handphonenya, kameranya terpisah. Ya Tuhan, kalau diingat sekarang kok paok kali ya handphone dengan kamera terpisah itu...:))

Duh, saya lupa itu seri berapa. Nyari di google juga pusing, terlalu banyak gambar yang keluar dan gak ketemu yang mau dicari.:)) 

Nah, handphone sony ini saya pakai sampai awal kelas 1 SMA. Dia berakhir konyol di kaleng cat tembok. Jadi ceritanya, waktu itu mau 17an, di sekolah kerja bakti mengecat ruangan kelas. Saking semangatnya ngecat saya gak sadar handphone di kantong. Ayah menelepon saya. Pas ngangkat, tangan saya agak licin lalu ‘clup..’ . Taraaaaaaaaaa..........handphone warna oranye berubah jadi coklat tua.

Waktu saya ceritakan kepada Ayah kejadiannya beliau bingung mau komentar. Kini handphone masuk dalam kaleng cat jadi lelucon di rumah. Tiap saya handphone baru, nasihat Ayah tak berubah, “jangan dimasukkan dalam kaleng cat lagi yaaa..”.

Sebagai hukuman atas kecerobohan saya, Ayah tidak membelikan saya handphone sampai ulang tahun saya di bulan Februari. Enam bulan saya mengandalkan telepon rumah. Ya, adik-adik....dulu telepon rumah sangat berguna.

Sebagai hadiah ulang tahun maka Ayah membeilkan saya handphone Nokia 3660 warna biru. Saya suka sekali modelnya. Sampai sekarang saya masih suka model handphone ini. Selain itu, saya senang soalnya sudah lama saya gak punya handphone.
Nokia3660, handphone favorit sepanjang masa
Namun lagi-lagi nasib sial menimpa. Sedang asik naik angkot, eh, dicuri orang. Kayaknya sih saya kena hipnosis gitu. Waktu itu emang lagi musim. Hanya beberapa bulan saja saya menkmati handphone favorit saya itu. Hiks. Karena trauma, saya gak naik angkot selama setahun dan pakai handphone yang kecil-kecil tak berdaya saja. Yang penting layarnya berwarna dan ada radionya.

Nokia2600, themesnya bagus-bagus
Kemajuan teknologi ponsel menggairahkan sekali waktu itu. Jadi saya pun menabung buat beli hape baru. Yah, karena feeling guilty gitu kan sama orangtua kalau dibeliin hape berakhir derita semua. Singkat cerita, saya pun berhasil mengumpulkan uang membeli handphone yang saya suka di kala itu, Sony Walkman W550i. Widdiiih...bisa diputar 180 derajat!! How cool that is!

Sony Walkman W550i, gaul karena bisa diputar 180 derajat
Tapi dulu jarang yang punya handphone ini. Jadilah handphone saya agak famous di kelas. Teman-teman sering pinjam buat main Worm. Ya Tuhan, lawas giler permainnanyaaa...

Saya pakai handphone itu dari kelas 2 SMA sampai semester 1 kuliah, tahun 2007. Modelnya asik, themes nya lucu dan soundnya bagus buat dengerin lagu.

Namun segala kekerenan itu musnah ketika pada suatu malam di bulan puasa, saya pergi solat tarawih. Handphone saya tinggal di kamar teman. Waktu pulang, seorang teman bilang...

“Ndoook....maaaf yaaa...”

Saya bingung. “Kenapa?”

“Handphonemu...”

“Kenapa handphone i?”

“Aku gak sengaja salah putar....”

Okay...jadi, teman saya itu memutar handphone saya 360 derajat. Terimakasih~ Jadilah selama beberapa hari saya pakai handphone itu dalam keadaan longgar. Pernya sudah hampir putus tapi masih tetap bisa digunakan untuk menelepon dan sms. Jadi saya bertahan. Lagipun, kalau mau ganti hape tanggung, lebaran mau pulang kampung (untuk pertama kalinya).

Padahal sebelum ke Penang ayah sudah mengingatkan, ganti aja itu handphonenya... tapi karena saya masih sayang saya enggak mau. Itulah kaaan bandal kali dibilangin orangtua....-__-“

Besoknya saya mau mudik jadi saya dan teman-teman beli oleh-oleh. Pulangnya, pas turun dari mobil saya enggak sadar ternyata handphone ada di pangkuan saya. Handphonenya pun jatuh ke aspal. Yeyeyeyeyee......tralala tralili....
Lucunya, walau LCDnya mati total, handphone saya masih bisa menerima telepon. Jadi seru, saya menebak, wah, siapa nih yang nelepon?!:))

Sampai rumah, tentu saja saya lagi-lagi direpetin karena ceroboh dan lelucon handphone putar pun mengambil posisi handphone cat tembok.

Untung saja hari raya. Duit THR tentu saja saya beliin handphone. 

Nokia6120, handphone asik penuh kenangan. eyaaak....
Dua tahun juga saya pakai handphone ini. menemani hari-hari kuliah, pacaran, practical training, interview narasumber, dan tentu saja foto2 sama teman-teman tersayang. Sampai wujudnya pun tak berperikemanusiaan. Pinggiran layarnya bopeng, tulisan di keypadnya udah pudar, besi di samping kanan kirinya terkelupas. Gak kayak handphone anak perempuan pokoknya.
Akhirnya dengan ikhlas handphone tersebut dijual. Tentu saja harganya tak seberapa. Mana ada tukang jualan mau menerima handphone sejelek itu?!

Lalu, semester akhir kuliah saya pun beralih ke Samsung Corby warna kuning. Yeaaah....saya suka bentuknya unik dan warnanya lucu. Themesnya cute dan keypadnya qwerty. Belakangan saya tau rupanya salah satu endorsement Jang Geun Suk adalah corby. Kyaaa....kalau saya udah into k-pop dulu pasti parah. Sayang, kita memang berjodoh nampaknya. Hahahaha

Samsung Corby warna kuning yang sangat comel
Cuma sekitar setahun saya pake Corby. Tentu saja handphone ini juga mengalami kecacatan berada di tangan saya, keypadnya cacat saya lupa karena apa. Setahun saya pakai, lalu saya ganti Balckberry yang Gemini.

Apapun model handphonenya, selalu saja berakhir nista di tangan saya. BB saya ini tidak saya pakai lagi dan tersimpan di rumah karena sinyalnya enggak ada padahal udah dicoba pake semua provider. Keadaan fisiknya tak usah ditanya, sudah tentu mengenaskan. Malas membawa ke tukang service.
Gemini8520, awal dari segala ke-alay-an 
Lalu dengan kurang ajarnya, saya pakai bb abang saya yang ngangur di rumah. Tadinya abang saya mau menjualnya tapi kotaknya hilang jadi yaudah saya pakai aja. Jadilah saya menggunakan BB pearl...warisan abang.

Berbulan-bulan saya pakai handphone ini sebelum ia mati konyol. Awalnya tutup belakangnya lepas. Tampaknya ada bagian dalamnya yang patah jadi tak bisa melekat. Jadi saya isolasi. Tiap tiga hari sekali saya ganti isolasinya soalnya terkelupas. Tapi kadang saya malas jug sih, jadinya suka jatuh-jatuh. -__-

Daaaaan........tadi sore terjadilah sebuah peristiwa yang menggetarkan jiwa. Handphone tersebut tercemplung ke dalam WC. 
Selamat tinggal, blackberry pearl yang kusayang. Semoga kau tenang di dalam WC.
Jadi ceritanya sebelum pulang saya singgah di mesjid kamus mau solat ashar. Karena sesak pipis jadi saya mampir ke toilet dulu. Saya lupa kalau handphone ada di kantong. Biasanya saya selalu meletakkan handphone di tas kalau ke toilet. Jadi ya gitu deh, pas buka celana...jatuh lah handphone dan baterenya ke wc dengan indahnya. Sialnya, di tutup belakang yang hobi lepas itu malah tertinggal di lantai toilet. 
--____________---

Sebenarnya saya sedih tapi saya rasa lucu juga, masa handphone jatuh ke wc?!

Setelah diingat-ingat saya ini ceroboh sekali ya?! Masa barang kayak gitu tak bisa dijaga?! Ya Tuhaaan ampunilah hamba-Mu ini.

Sekarang saya lagi mau hiatus dari dunia ponsel. Tapi harus tetap ngurus nomor handphone yang lama. Mengingat semua urusan terdaftar dengan nomor itu. Gak kerjaan lah ganti-ganti nomor hape ke bank dan kampus. Huaaaaah....

Sementara, saya pake handphone cadangan yang pernah saya beli dan jarang dipakai. Yaudah, saya pakai ini aja dulu. Semoga yang ini jangan berakhir kejam. Dia terlalu kecil dan imut untuk mengalami hal seperti pendahulunya.
SamsungE1195, iseng beli karena murah dan imut akhirnya menjadi sangat berguna
Baiklah, saya mau tidur. Semoga semua ada hikmahnya. Selamat malam.


P.S : Maafkan mama dan ayah, anak kalian ini sukanya bikin susah. Maafkan abang dan kakak, adik kalian ini hobinya bikin pusing dan bikin malu.:(

Friday, April 26, 2013

Balada Kappa


Tiba-tiba malam ini saya teringat Kappa, kucing abang saya yang sekarang tidak diketahui keberadaanya. Sudah lama saya ingin mengabadikan Kappa dalam sebuah cerita tapi gak sempat (baca: malas). Nah, karena lagi ada mood buat menulis, jadi apa salahnya  bercerita tentang seekor kucing yang lumayan signifikan dalam kehidupan ailurophobia saya.

I think the world knows that I hate cats so much. Ya gak sedunia juga sih, Ndok. Emang kau siapa? Ya, pokoknya gitu lah, keluarga serta teman-teman sudah tahu betul kalau saya tidak suka sama binatang karnivora satu itu. Sudah beberapa kali juga saya posting dalam blog. Kalau mau tau sejarahnya, bisa dibaca di posting blog saya beberapa tahun lalu.

Dalam kebencian saya pada kucing...pada suatu hari...saya lupa tepatnya tahun berapa. Yang jelas saya masih kuliah waktu itu. Eh, sekarang juga masih kuliah ya. Oke, waktu itu saya masih usia belasan, mungkin 18 atau 19 tahun.

Nah pada hari itu saya sedang pulang kampung dan mendapati abang saya sedang bermesraan dengan seekor kucing. Aduh, kalimat apa itu?! Jadi lain artinya. Maksudnya, abang saya sedang bermain-main sama seekor kucing. Kucingnya dielus-elus dan mereka sangat akrab. Tentu saja saya berang! Apa-apaan ada kucing di rumah ini???!!

"Abang...itu kucing siapa?"

"Ini kucingku si Kappa namanya."

"APAAAAAAH???!!!"


Sejak itu kehidupan saya dalam rumah mulai terancam. Kalau pintu terbuka sedikit saja maka saya akan berjumpa dengan kucing kurus berbulu abu-abu itu. Kalau kami sedang makan di teras belakang, maka si Kappa akan berjalan di kolong meja. Tentu saja saya akan mengangkat kedua kaki saya ke kursi supaya tidak bersentuhan dengan bulunya. Kalau tersentuh saya akan teriak, masuk ke dalam rumah lalu mencuci kaki saya bersih-bersih. Ya, sebenci itulah saya pada kucing. Kena dikit, samak!!!!

Kembali pada Kappa si kucing fenomenal. Kata Abang saya Kappa adalah siluman air dalam komik  kesukaannya. Saya pernah iseng googling soal Kappa. Rupanya Kappa itu salah satu mahluk aneh dalam mitologi Jepang. Katanya wujudnya tak ada hubungannya sama sekali dengan kucing, malah campuran bebek, katak dan monyet. Aduh, jadi seram. Whatever.

Intinya sih, sampai sekarang saya masih heran kenapa abang saya dengan baik hati ‘memelihara’ si Kappa. Namun sejak abang saya pindah ke luar kota, keberadaan Kappa tersingkirkan. Tak ada lagi kasih sayang... Jangankan dielus-elus, dikasi makan saja sudah untung.

Kalau kami makan siang atau malam, si Kappa akan mengeluarkan suaranya, “meoong...meooong...” 
Ih! Lalu saya akan segera membanting pintu tepat di depan wajahnya. Tapi saya tajut-takut juga sih. Dalam bayangan saya kepalanya terjepit lalu putus. Yaampun, kalau itu terjadi, bisa-bisa saya akan trauma seumur hidup.

Tapi Kappa ini jenis kucing yang tak pantang menyerah. Setiap hari dia datang. Kakak dan Ayah saya dengan baik hati memberi sisa makanan, melemparnya ke dekat tong sampah di halaman. Lalu dimakan oleh Kappa. Saya selalu berkomentar,

“Itu lah ayah ini dikasinya makanan, jadinya terus datang dia,” kata saya sambil merengut.

“Kan gak apa-apa asal dia gak boker di sekitar rumah kita aja,” jawab Ayah dengan santainya.

Baiklah, alasan diterima.

Yang bikin Kappa ini fenomenal adalah kedodolannya sebagai seekor kucing. Kakak saya menyebutnya kucing ‘border line’. Alasannya karena Kappa sangat bodoh.

Dimana-mana ya, kucing kalau digertak pasti akan kaget lalu lari. Kappa tidak. Dia diam saja. Kalau dikasi makanan, dia tak langsung pergi ke makanan tersebut. Dia tampak kebingungan mencari dimana letak makanan itu. Padahal di sekitar dia aja lho! Paok kali lah pokoknya.

Kami sempat mengira Kappa ini rabun senja. Tapi kalau siang dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda kecekatan dan kecerdasan. Maka kami menyimpulkan bahwa Kappa ini memang kucing bodoh. 

Sebagai yang punya rumah, kami agak dodol juga sih. Kami sempat bingung sebenarnya Kappa ini jantan atau betina. Kami pernah berspekulasi kalau dia itu betina. Karena pada suatu hari Kappa sangat lemas. Dia macam bad mood gitu. Kami sangka dia hamil. Tapi hari berikutnya dia kembali seperti semula. Tetap bodoh.

Pernah juga kami kira dia jantan. Karena waktu itu dia membawa seekor kucing kampung  entah dari mana dan si Kappa ini semacam caper gitu.

Hal fenomenal lain yang si Kappa lakukan adalah dia dengan kurang ajarnya membawa temannya. Seekor kucing hitam berbulu sangat lebat, macam kucing anggora. Ayah saya memberinya nama ‘Anggodo’, singkatan dari Anggora Domestik. Kebetulan, waktu Anggodo muncul, sedang santer berita mengenai Anggodo Widjojo dalam kasus Cicak dan Buaya yang melibatkan KPK tahun 2009 lalu.

Mereka berteman akrab. Tak lama kemudian, muncul lagi kucing hitam lain. Diberi nama oleh Ayah saya juga: Tambi. Yaampun gak ada kerjaan betul si Ayah ngasi nama buat kucing-kucing kampung yang singgah di rumah. Kata Ayah, Tambi itu nama orang India yang kulitnya sangat hitam. Entahlah. -_-

Tahun berganti. Ketiga kucing itu makin sering hang out di sekitar rumah kami. Tapi Anggodo menunjukkan tanda-tanda penuaan. Bulunya rontok dan dia jadi jelek. Ayah berspekulasi dia termakan ikan asin. Kami sempat mau menjualnya tapi malu karena dia sangat jelek, mana ada yang mau beli?!

Tanpa kami sadari, Kappa membawa perubahan besar dalam kehidupan dalam rumah. Kami jadi hobi menyisakan makanan. Kalau ada makanan yang tak habis maka kalimat ini akan keluar “kasi buat Kappa aja”.

Saya juga kini tak berteriak terlalu histeris jika ada kucing. Walau Kappa belakangan mulai kurang ajar, dia sudah berani masuk ke rumah, tapi sebatas kolong meja makan saja. Saya tetap takut dan tak suka kucing tapi saya sekarang sudah bisa mengontrol kapan saya akan teriak atau melarikan diri dari TKP. Mungkin Kappa ini sebagai alat terapi ketakutan saya juga.

Kalau dipikir-pikir, pengaruh Kappa dan teman-temannya cukup besar. Dan tak terasa sudah tiga tahun lebih juga mereka jadi bagian dari rumah saya.

Suatu hari Kappa hilang. Dia tak datang ke rumah lagi. Tapi Anggodo dan Tambi tetap datang. Kami mengira dia telah mati. Eh, bukan kami ding, saya aja. Dalam hati saya senang. Mati sajalah kau, Kappa. Hahahhahaa. Tapi rupanya dia kembali lagi. Tanpa perubahan. Dia tetap bodoh. Sial.

Kehidupan berjalan seperti biasa. Tiga serangkai itu datang tiap kami makan siang atau makan malam. Malah, kadang Subuh pun sudah ada. Gila, kucing-kucing yang sehat, hobinya sarapan.

Terakhir saya kembali ke Malaysia beberapa bulan lalu, Ayah dan kakak mengabarkan kalau Kappa sudah tak muncul beberapa hari. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Tampaknya Kappa memang hilang untuk selamanya.

Mungkin dia hilang. Mungkin juga dia sudah menemukan tuan rumah yang lain yang lebih menyanyanginya. Bukan  tuan rumah yang hobi mengusirnya dan mengejeknya sebagai kucing border line.
Atau mungkin saja Kappa telah kembali ke dunia per-kucing-an di atas sana. Walau katanya kucing punya sembilan nyawa, saya berharap Kappa tak akan pernah kembali lagi, dalam wujud apapun.

Semoga kau tenang di alam sana, Kappa. Terimakasih telah menemani dan merusuhi kehidupan keluarga kami selama ini. Kini kami bisa makan dengan pintu terbuka tanpa was-was akan ada kucing. Karena kabar terakhir yang saya terima dari rumah, Anggodo dan Tambi pun sudah tak tampak lagi.

Sekian dan terimakasih. 

Monday, April 8, 2013

Narsisisme kah?


Aku adalah makhluk paling rumit yang pernah kutemui
Aku adalah manusia paling sadis yang pernah kutelusuri
Aku adalah hewan mamalia paling busuk yang pernah kupelajari
Aku adalah orang paling bengal yang pernah dikagumi
Tapi aku adalah dia yang paling kutaati.