Pages

Friday, August 5, 2016

Ketika Kembali ke Rumah Orangtua

Kembali ke rumah setelah bertahun-tahun tinggal jauh dari keluarga, terutama orangtua, ternyata ada dilemma tersendiri. 

Kalau diingat-ingat kembali, sejak saya SD tinggal serumah dengan orangtua bisa dihitung sekitar enam tahun. Selebihnya, saya tinggal dengan saudara kandung saya, ditemani Mbak yang menemani di rumah. Bahkan, waktu saya SMA, saya hanya tinggal berdua dengan abang dan dua orang sepupu. Basically, I'm used to live away from my parents. 

Di satu sisi, terbiasa hidup mandiri sejak dini sangat membantu dalam proses penyesuaian diri dimana pun saya berada. Makan tidak pilih-pilih, tidak ribet kalau kemana-mana. Santai saja. Saya terbiasa mencuci baju sendiri, membeli keperluan sehari-hari sendiri, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan sendiri, termasuk pergi kemana-mana sendirian. Walaupun tidak pernah lepas dari pengawasan dan dukungan (moral dan materi) orangtua, tetap saja dalam pelaksanaannya saya melakukannya sendiri. Saya punya kontrol penuh terhadap diri dan apa yang saya lakukan. 

Ketika kini saya kembali ke rumah orangtua dan bekerja, terkadang saya merasa gerah. Kenapa? dengan jam kerja saya yang berubah-ubah, saya harus siap untuk pergi ke sana ke mari seharian. Tentu saja itu sangat mudah jika dilakukan sendirian. Tidak merepotkan orang dan saya juga tidak merepotkan diri sendiri, kan?

Nah, karena kini saya tinggal bersama orangtua, yang notabenenya masih punya banyak urusan di luar, kadang saya harus mengikuti jadwal mereka untuk bisa bergantian memakai mobil misalnya. Atau ketika saya harus membantu mereka mengurus ini dan itu sedangkan saya juga punya banyak pekerjaan.

Kadang saya merasa tidak enak juga kalau harus diantar Ayah saya bekerja. Jalanan kota ini macet dan Ayah sudah tua. Sudahlah, ngapain lagi sih mengantar anaknya?! Tapi bukan Ayah saya namanya kalau tidak heboh. Mungkin ada pengaruh dulu waktu sekolah beliau jarang mengantar ke sekolah karena kerjanya jauh dan kami tidak tinggal bersama. 

Hmmm tidak terasa hampir dua tahun sejak saya kembali ke rumah dan perasaan seperti ini masih sering menghampiri. Agak egois memang tapi munking saja inilah salah satu akibat dari keseringan sendirian. Hahhaaa.

Bukannya saya tidak suka tinggal di rumah. Malah saya senang karena tidak perlu bayar uang asrama tiap bulan, makan diajamin enak, sehat dan bersih, dan gratis. Kalau sakit ada yang ngurusin dan kalau jalan-jalan kadang dibayarin Mama atau Ayah. Hehehe. Dan yang paling penting adalah pahalanya. Tinggal bersama Mama dan Ayah pastinya mengharuskan kita harus membantu mereka. Ya anggap saja membayar waktu bertahun-tahun tinggal terpisah karena pekerjaan mereka. Walaupun tinggal dengan orangtua yang sudah umur 60an itu beda lagi tantangannya. Hmmm..don't start with their mood swings, their sensitiveness and everything.  

Well after all, I just hope they'll always be healthy. Words can't explain how I love my parents. But I just can't deny the feeling that I'm not a child anymore. And I have my own rights to do my own things. 



Well, what a quote! :) 

Saturday, July 30, 2016

Tentang Mengajar #3

Masih dalam suasana First Teaching Anniversary. Sudah lama sebenarnya ingin menulis ini tapi sering tidak sempat. Lebih sering lagi karena malas. Hehehe. 

Well, langsung saja ya. Karena zaman sekarang karena ketahanan atensi membaca seseorang semakin rendah karena kebiasaan membaca informasi singkat di internet (katanya gitu sih). Tapi untuk membaca postingan ini mungkin kalian akan menghabiskan waktu antara 5-10 menit. 

Baiklah. Ada dua hal yang saya dapat simpulkan dari satu tahun mengajar, baik di tempat les bahasa Inggris maupun di universitas.

1. Mengajar bukan pekerjaan mudah
Masih sering saya merasa gamang karena bertahun-tahun duduk di bangku mendengarkan guru atau dosen. Sekarang saya yang dilihat, diperhatikan dan didengar omongannya. Tapi sayangnya mengajar bukan hanya soal didengarkan dan diperhatikan. Mengajar berarti membuat orang mengerti. Bukan hanya mengerti isi, tapi juga esensi. 

Dengan morat maritnya sistem politik, ketidaksetaraan ekonomi, serta krisis moral di sebagian besar masyarakat negeri ini, esensi pendidikan sesungguhnya sering terlupakan. Apalagi dengan adanya berita-berita miris dunia pendidikan akhir-akhir ini. Mahasiswa bunuh dosen, guru dipenjara karena cubit muridnya. Jadi apa esensi pendidikan di sini?

2. Pengajar dan Pelajar adalah Manusia
Ini yang saya rasa sering dilupakan. Manusia memang kadang suka lupa kalau mereka cuma manusia. Ada kurang dan lebihnya. Ada benar dan salahnya. Tidak selamanya guru benar. Dan tidak selamanya juga guru salah. Begitu juga dengan muridnya. Jadi, kalau ada kasus pembunuhan dan pemenjaraan tadi, coba lah lihat dari dua sisi. Jangan menghakimi gurunya saja atau muridnya saja.

Dari pengalaman saya mengajar yang baru seiprit ini, sudah lumayan banyak saya temui jenis-jenis murid. Ada yang rajinnya minta ampun tapi diam saja ketika ada diskusi. Ada yang sukanya ngomong terus tapi isinya gak ada. Tapi yang paling bikin saya sedih dan kesal adalah para pelajar yang tidak perdulian alias ignorant. Tidak perduli ada kuliah ganti atau tidak. Tidak perduli ada tugas atau tidak. Lah terus dia kuliah buat apa? Ngabisin duit orangtuanya?

Ketika mengajar di tempat les saya menggunakan pendekatan berbeda dengan ketika mengajar di universitas. Saya menganggap bahwa mahasiswa adalah makhluk dewasa yang sudah seharusnya tau apa yang sedang dan harus dia lakukan untuk kebaikan dirinya. Jadi, kalau sudah diingatkan berkali-kali tapi masih bebal juga, salah siapa? Di tempat les saya lebih luwes karena belajar bahasa memang harus fun. Tapi lagi-lagi, saya tidak suka murid-murid yang tidak perduli. Kembali lagi, dia les untuk apa? Ngabisin duit orangtua? 

Bagi saya, pengajar dan pelajar harus tau lah peranannya masing-masing dan saling mengerti. Pelajar harus sadar, dia itu sedang belajar. Jangan bikin masalah atau mencari-carinya. Pengajar hanya manusia. Bisa jadi sebelum mengajar, dia melalui hari yang berat. Bisa jadi kala itu dia kelelahan karena seharian mengajar juga di tempat lain. Bisa jadi hidupnya susah karena apa yang didapatnya tidak sebanding dengan apa yang didapatnya.

Pengajar pun juga harus sadar, yang dihadapi adalah kumpulan manusia dengan berbagai sudut pandang dan kepribadian. Ya intinya, sama-sama berkelakuan modest aja sih. Dan ini emang susahnya minta ampun! Kembali lagi ke poin nomor 1, mengajar bukan pekerjaan mudah!

Saya sadar saya masih bau kencur lah di dunia pendidikan. Dan mungkin kesimpulan saya di atas masih terasa naif atau (sok) idealis. Tapi percayalah, saya suka sedih kalau mikir ke depannya bangsa ini mau kemana sih dengan sistem pendidikan seperti ini? Mungkin akan dijawab oleh sebagian orang “ya gak usah dipikirin juga kaleee...” 

Ya gimana, kerjaan saya emang mengharuskan saya berpikir serta bikin orang lain mikir. Hahaha!

Baiklah. Itu saja dulu. Saya belum cerita tentang tingkah laku anak zaman sekarang kan? Yang jauh berbeda dengan ketika saya masih sekolah. Widih! Nanti lah di postingan yang lain (itu juga kalau gak males nulisnya sih).

Oke, jangan dimasukin ke hati ya kalau ada yang tersinggung. Masukin ke kantong aja siapa tau berubah jadi duit. *apasihNdok?*

Sekali lagi, Happy First Teaching Anniversary to me. Long way to go, dude!

Wednesday, July 13, 2016

Tentang Mengajar #2 - Happy First Anniversary!

Tidak menyadari bahwa sudah setahun mengajar sampai ada notifikasi dari Linkdn dan beberapa teman mengirimkan pesan berisi 'Congratulation'. Well, thanks anyway.

Jadi sudah setahun bergelut dengan lesson plans, students, scoring, bikin soal ujian, deal with problematic students (and other lecturers). So, what's next?

By the way, sebelumnya harus menjelaskan status saya sekarang. Intinya sih saya masih jadi part-timer. Semua yang saya kerjakan tidak ada yang tetap. Tempat kerja pindah-pindah, status setengah-setengah plus pendapatan tidak tetap. Dan ini juga yang bikin saya masih galau menjalani profesi ini. Ada banyak alasan yang menjadikan status saya gak jelas. Yah males juga sih kalau harus ditulis di blog. Intinya, sekali lagi saya dikecewakan oleh sistem administrasi tanah air. Ugh!

I'm still applying for better jobs (with better income of course) but I haven't got other interview callings. Once I got it, they didn't call me again. Ah...you know...that job hunting all over again...:(

But anywaaay....I'm trying to enjoy what I'm doing now. I'm doing it because I'm teaching what I like (English language and Communication). The teaching job is actually not my favorite but the subject, yes I love it. I'm trying to enjoy the good and bad times. Embrace the time of 'malas ngajar' and 'malas ngomong'. And the most important thing is, I get to meet many good people. And of course bad people. But they're there to give me lessons so yeah, I appreciate them too.

So when someone ask me, 'what do you want to do next?'. Well, just wait and see. And continue searching. I believe that God is the best director. We're the artists, right? So, I think we should act well, get along with other artist, and learn to make us a better artist.

Now let me congratulate myself, Happy 1st Teaching Anniversary, Ananda! :) 

Wednesday, April 13, 2016

Tentang Mengajar #1

Tidak terasa hampir setahun juga saya menggeluti dunia mengajar. Profesi sebagai pengajar sebenarnya bukan tujuan utama saya tapi karena satu dan lain hal, inilah yang saya jalani sampai hari ini. 

Dalam kurun waktu kurang dari setahun, kurang lebih saya sudah mengajar 11 kelas di tempat les, dan 4 kelas di universitas. Yang selalu menjadi konsern saya dalam mengajar adalah bagaimana menjaga mood ketika harus berhadapan dengan murid-murid yang punya karakter berbeda-beda. Ya, abis gimana ya, susah sih makhluk Pisces. :D

Ketika saya mengajar di tempat les tentu saja harus menggunakan pendekatan berbeda ketika mengajar di universitas. Di tempat les saya adalah Miss Ananda. Di universitas saya adalah Ibu Nanda atau Kak Ananda. Dari segi sapaan pun, saya harus menjalani peran yang berbeda di mana pun saya berada. Maka, ketika dalam satu hari saya harus berpindah lokasi sampai dua kali, bukan saja badan saya yang lelah, perasaan saya juga sama letihnya. 

Tahun lalu saya sempat menjalani hari yang super melelahkan. Waktu itu setiap hari Rabu, pagi hari saya harus mengajar di universitas. Siang hingga sore, saya mengajar di tempat les. Kemudian malam, saya lanjut ke universitas. 

Pagi-pagi saya bertingkah sebagai dosen. Siang ke sore saya bertingkah dan berbahasa layaknya guru les. Malamnya ganti mode bahasa dan tingkah laku jadi dosen kembali. Kadang saya berpikir kalau saja ada tombol mode on/off di tubuh ini, pasti seru. 

Ketika menjalaninya selama kurang lebih tiga bulan, saya mendapat kesimpulan bahwa dalam mengajar adaptasi juga diperlukan. Bukan saja murid yang harus beradaptasi dengan gurunya, guru juga perlu beradaptasi dengan muridnya. Beda murid, beda pendekatan, beda bahasa, dan beda cara mengajar. Makanya, kalau ada yang masih berpikir “ah, ngajar kan gampang, tinggal ngomong aja.” Well, you gotta try teaching once, then you’ll know.

Kira-kira ada yang punya tips and trick buat mengajar?

Sunday, September 27, 2015

Ms.Ananda's First Entry

Waktu tidak cuma terbang tapi juga berjalan, berlari, teleportasi dan segala hal yang memerlukan kecepatan. Baru hari Senin, tau-tau sudah hari Minggu. Sepertinya baru saja saya memulai kehidupan sebagai seorang pengajar, rupanya anak-anak murid sudah selesai ujian final. I think I need to tell story how I ended up being an English teacher. How come?! I can’t say my English is so great that I’m capable to teach people.

Kembali pada suatu hari yang tidak begitu cerah, saya terdiam di depan laptop yang menyala. Mencari akal untuk mendapatkan uang karena tak kunjung mendapat pekerjaan (setelah countless job interviews at some places in Indonesia). Kemudian saya pun iseng browsing tempat-tempat les bahasa asing di kota tempat domisili sekarang. Rencananya saya mau belajar bahasa asing saja (Mandarin/Jerman/Korea) daripada  setiap hari tanpa arah.Tapi dasar otak saya random luar biasa, saya malah iseng berfikir “apa aku ngajar anak orang bahasa Inggris aja ya?! Lumayan kayaknya. Masih ada waktu untuk mencari pekerjaan juga."

Kemudian saya pun segera menulis surat lamaran pekerjaan (yang mungkin saya bisa menulis dengan tutup mata saking seringnya menulis surat sejenis). Besoknya, saya langsung datang ke tempat kursus tersebut untuk mengantar lamaran. Seperti sudah takdir, ternyata tempat kursus tersebut memang sedang mencari tenaga pengajar dan saya langsung disuruh datang untuk tes tahap pertama keesokan harinya. Long story short, saya keterima setelah melewati 4 tahap seleksi dan satu bulan training di ibukota. Tidak pernah terpikirkan mau jadi guru les bahasa Inggris saja seribet itu. -_-“

Sekarang satu term (tiga bulan) sudah selesai. Selama tiga bulan ini banyak sekali hal-hal yang saya pelajari dan tentu saja banyak sekali orang baru yang saya temui. Saya juga mengajar di tempat lain sebagai dosen (yang ini lebih aneh lagi kejadiannya tapi ntar-ntar aja nulis ceritanya).

Intinya, kini saya menjalani hari-hari menjadi seorang pengajar. Menjadi seorang pengajar adalah pilihan terakhir saya dalam daftar ‘dream job’ yang saya punya. Sampai sekarang saya juga masih bingung apakah ini benar adanya?! 

I can’t say that I’m happy to teach but I can’t say I don’t like it either. Sungguh kombinasi 20-something dan zodiak Pisces yang luar biasa. Despite of everything, I enjoy the times and cherish people I encounter during this journey.

Here are some pictures with my students after our last sessions. Maybe we won’t meet again next term but I think I should appreciate them because they’re my first students. Thank you, kids. I’ve learned a lot!

With this group of anak SMP zaman sekarang. Hhhh....pening deh Ms.Ananda! XD

With anak SMA zaman sekarang. Hmmm....pening juga Ms.Ananda! XD

Sometimes, college students and workers are easier to handle. :))  

Three months is a very short time to conclude what teaching is. But I think, teaching is also a process of learning. When you teach, you learn as well. You learn about people and how they learn. But the most important thing is, you learn about yourself more when you teach. I can say that I know myself even more through the process.


Therefore, I’m looking forward to the next lessons.