Rambling #6

Sudah minggu keenam untuk semester kedua. Optimisme semakin menipis. Saya heran mereka pergi kemana. Ah, sudahlah. Mungkin mereka bosan dengan saya. Saya juga sedang malas mencarinya. Biarkan saja kegundahan berujung isak tangis di bawah selimut menemani saya malam ini.

Sebenarnya bukan malam ini saja. Mungkin hampir setiap malam selama semester ini. Tapi yang paling saya heran adalah kenapa harus saya tulis di sini? Toh tidak ada yang perduli. Ya sudah, tidak apa. Dunia maya dan dunia nyata sekarang tidak jauh berbeda. Memang tidak ada yang benar-benar perduli. 

Akhir-akhir ini ketakutan demi ketakutan sering sekali menghampiri. Ketakutan jenis ini memang sering muncul tapi kali ini instensitasnya sungguh tidak normal. Ini sekolah bisa selesai gak ya? pertanggungjawaban ilmu mana? gimana caranya menghasilkan uang instead of cuma menghabiskan uang orang tua? kenapa jadi susah sekali menulis dengan bahasa Inggris yang baik dan benar khas para akademia? dan kemana kemampuan bahasa Malaysia? dan yang paling menyedihkan, kenapa struktur bahasa Indonesia semakin tidak berperikemanusiaan? 

Mungkin satu-satunya penghibur sebulan belakangan adalah kunjungan kakak weekend yang lalu. Akhirnya bisa berkeluh kesah secara nyata tanpa perantara sinyal komunikasi yang kadang bikin emosi. Hhhhhh....andai saja hidup itu cuma tentang membaca buku, menonton film atau serial televisi, mendengar lagu seharian sambil tidur-tidur seharian, dan makan cheesecake tanpa harus takut jerawatan. 

Hah! ini namanya apa ya? 20 something life crisis? Alamak! yang benar saja. Saya sungguh tidak rela mengingat umur. Dua puluh dua tahun memang bukannya tua, tapi juga tidak muda. Sepertinya di umur dua puluh dua tahun  seseorang terlalu muda untuk menyerah tapi terlalu tua untuk hanya bersenang-senang tanpa arah. 

Saat-saat seperti ini yang namanya quote motivasi tidak pantas didengar, karena malah membuat semakin depresi. Saya juga bingung apa yang harus dibuat. Ini bukan PMS. Syndrom apa masa sampai enam minggu. Well I know that the solution is in me. Tapi apaaa????

Baiklah, sebelum tulisan ini makin random, ada baiknya kembali pada bacaan yang sudah empat jam lebih tidak berganti halaman. Seriously, it's too much. Semacam tidak mungkin, tapi harus. Boleh nangis di bawah selimut lagi malam ini? Please. 



Comments

Mira Afianti said…
kayanya emang sindrom umur 22 itu begini yah ndook. aku jg sering resah tidak beralasan. beralasan mungkin, tapi entah apa. semangattt ndook!
ananda said…
hehhee iya mir. bahaya betul ini kegalauan 20 something. makasi mira, semangat juga ya di sana.:)
aciato said…
aku pas s2 kemaren juga di usia 22.. dan lihat hasilnya ahahaha.. don't follow me, follow *sensor* (inget stiker kuning tulisan itam yang sering ada di mobil orang2 itu kan? :D)
dake semangat ya..
dibalik kegalauan pasti ada kesusahan :)) *kan katamu quote motivasi gak berguna, jadi kukasih yg menjatuhkan sekalian*
ingat janjimu => PROFESOR..
:)))))
*kakak nan bringas*
Fandi said…
Nice rambling there, ndok :p
ananda said…
kacidos : hai kakak kemfung. aku gak pernah janji mau jadi profesor yaa -__

fandi: haha..thanks fand. ;p

Popular posts from this blog

Itazura na Kiss : Love In Tokyo

Study Week, Minggu Mengulangkaji, atau Minggu Tenang?

Hari Ke - 11 : (Anggap Saja) Tips Liburan ke Jepang