This Is OUR Fault! (What's next?)

Whohohoo...gini lha kan kalo lagi marok! asik mau ngpost aja kerjanya...

Kali ini saya ingin bercerita tentang....budaya. Wozz...terkesan mantap, tapi sebenarnya gak kok. Ini cuma pemikiran saya sebagai seorang warga negara Indonesia (yang tidak begitu baik) yang tinggal di negeri orang (yang katanya hobi nyuri dan nyiplak!)

Jadi kan, saya selalu merasa aneh melihat kain batik bergelantungan di di Gallery Seni kampus saya dengan tulisan besar: BATIK MALAYSIA.
Saya jadi mikir, sebenarnya batik ini asalnya dari mana sih? Jawa atau Malaysia? seperti yang dikatakan orang2 disini.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengunjungi sejenis pabrik, atau boleh dibilang bengkel kain di Pulau Pinang (tapi saya lupa nama daerahnya). Nah, disitu memang ada alat2 yang mirip sama alat2 yang digunakan untuk membuat batik di Solo, as i saw at batik workshop near Keraton when I was in holiday!

Dulu yang gak mikir yang aneh2. Paling cuma berkomentar, "lho, kok kayak di Solo waktu itu?".
Tapi sekarang saya jadi mikir, "pabrik itu kapan ya didirikan? apa selama yang di Solo? Dan, orang2nya itu beneran orang Melayu atau jangan2 orang Jawa?"
Hoho...

Tapi kalo diperhatikan lebih jauh, memang ada bedanya. Kalo batik Malaysia lebih jelas motifnya, misalnya gambar bunga atau daun. Tapi kalau Indonesia, motifnya lebih abstrak, dan jelas, LEBIH KEREN! (halah!)

Setahun yang lalu, pas saya baru2 disini, gak ada tuh heboh2 batik. Kalo saya gak salah, sejak ribut Reog Ponorogo (yang katanya dihakpatenkan sama negara ini), makin banyak aja budaya kita berkeliaran di negeri ini dan terkesan dihakpatenkan.

Kalau saya duduk2 di depan Graha Seni lagi nungguin si Edho, saya sering mendengar suara alat musik mirip suara gamelan. Dan pernah suatu saat, anak2 musik lagi latihan apa...gitu di luar. Eh, ternyata memang alat musikya mirip sama gamelan. Maennya diketok2 gitu juga.
Hhhh.....

Trus, angklung juga! Waktu saya browsing internet buat nyari tugas Bahasa Melayu. Kebetulan saya dapat judul presentasi tentang kebudayaan, jadilah saya browsing ke situs resminya Kementrian Kebudaya Malaysia.

And you know what, di halaman 'Alat Musik Tradisional', saya melihat angklung disitu. Angklung, teman2! alat musik yang kita kenal sebagai alat musik tradisional dari Jawa Barat. dan itu adanya di situs resmi kerajaan, means, lagi2 terkesan di hak patenkan.

Okay, satu lagi! waktu ada kegiatan Buddies Student di International Office. Jadi ceritanya anak2 Kyushu Universiti (dari Jepang) yang datang ke USM nyanyi lagu tradisional Jepang. and they ask us to sing one Malay trasditional songs. Dan kalian tau mereka nayayi apa? ya pastinya Rasa Sayang Hey,, kalo bahasa kita sih, Rasa Sayange!

Whua....saya dan Rika (teman Indonesia) langsung liat2an penuh arti. Bad mood gitu tiba2. Dan, saya gak ikutan nyanyi, cuma mulut aja komat-kamit gak jelas.
Sedikit sakit hati, coy!

Masih banyak lagi hal2 kecil yang terjadi disini tentang acara pengambilan budaya kita. Saya dan teman2 juga pernah mendengar lagu Soleram yang liriknya diganti jadi bahasa Melayu. Iramanya benar2 sama dari awal sampek habis. And I saw them dance with that song.
DAMN!

Dengan terjadinya semua ini, saya mikir, siapa yang harus disalahkan dengan ini semua? And I can answer that question, this is OUR fault!
Yupz, kita, rakyat Indonesia sendiri.

Kita gak pernah menjaga budaya tradisional kita dengan baik sampai budaya itu diambil baru sibuk menyuruh pemerintah negara lain minta maaf dan mengembalikannya!

Let us ask ourselves, pernah gak kita mempelajari dan memahami budaya kita? Okay, memang ada sebagian orang yang memang mengabdikan dirinya dalam kesinian tradisional. Yeah, tapi sepertinya populasinya makin menipis.
Dan saya akui, saya juga gak mempeljari kesenian tradisional dengan baik. Tapi setidaknya, saya tau, saya baca! dan saya sadar kalo ini salah kita!

Oiya, satu lagi. Kita punya gak undang2 yang melindungi kesenian tradisional kita ini? yang menetapkan kalo budaya2 di atas dan yang lain adalah punya kita?

Jelas gak ada! kalo ada, gak mungkin sampek dicuri! dan kalopun dicuri, dengan mudah kita bisa membuktikan kalo itu punya kita dan mengambilnya kembali dengan resmi.

Kalau dilihat dari segi sejarah, memang Indonesia-Malaysia itu serumpun, sama kayak dengan Thailand, Philiphina, dan Laos. Mungkin pas zaman kerajaan dulu ada pertukaran budaya disana. Okay, itu masuk akal.
Tapi kalau memnag berani mengatakan itu budaya kita harusnya bisa mengumumkan secara resmi kalo Reog, Batik, atau Rasa Sayange adalah PUNYA KITA DARI DULU!
Bukan sekarang, di saat dunia sudah hampir mengetahui kalau Batik adalah dari Malaysia.

Well, saya juga gak tau sbenarnya budaya2 di atas asal mulanya darimana dan punya siapa sebenarnya. Kalau dilihatt dari sejarah, memang masuk akal sih ada pertukaran budaya. Tapi kalo dilihat sekarang, ya jatuhnya pencurian budaya!

Yaudah la ya, cincai2 aja! yang hanya bisa saya lakukan disini cuma mengurut dada kalo lagi melihat budaya2 kita ditampilkan dan disebut2 sebagai budaya asal sini.

However, saya asangat mengharapkan bapak2 yang di atas bisa mengambil tindakan tegas tentang hal ini sebelum budaya2 lain dihakpatenkan oleh Malaysia tau negara2 lain di dunia. Saya ngerti kok Pak, kerjaan bapak2 banyak, tapi gpp lah politik dan ekonomi agak kacau balau, itu normal kok kalo kata penganut paradigma konflik.
Tapi jangan sampek kita kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan budaya!=)

Dan buat teman2 dimana pun kalian berada, sebaiknya kita mulai memepelajari, atau at least, baca2 aja kali ya budaya kita yang kaya ini. Hohoho...
Yeah, setidaknya kita 'aware' sama negeri sendiri!

Okay, kita lihat saja nanti, budaya apa lagi yang hilang dari kita? hehe...
Tapi kalo tiba2 ada patung Si Gale Gale nari2 disni, udah jelas kali lha nyurinya itu! Jauh kali si abang Gale maennya sampek ke Malaysia...=p


P.S: Duh, semoga aja dengan adanya postingan ini aku gak kena tangkap di bawah ISA! Hhahah...

Peace!

Comments

astrid anwar said…
kupikir kau sekarang udah membela negeri jiran..
ternyata kau masik cinta Indonesia..
aku senang!
(=
kok ga kreatif gt ya si malay ini?indonesia juga selalu pasif. contoh aja kasus pulau ambalat...
benar kata Sukarno.. "Ganyang Mal**sia".

Band-band nya juga sikit yg keren hehehe
ananda anwar said…
iya, aku masih cinta Indonesia kok. Memang benar kata orang, hujan batu di negeri sendiri lebih enak daripada hujan emas di negeri orang. hehe....
ananda anwar said…
hoho....ya gak sejelek itu jg sih malaysia ini.
Tpai emang iya, Indonesia nih agak2 lembel soal gini2....
walah, lebih enakan hujan emas di negara sendiri daripada hujan batu di negri orang!heuehue.. garing dah
ananda anwar said…
yaiyalah..................................................................................!!!

ahahhaha.......

Popular posts from this blog

Itazura na Kiss : Love In Tokyo

Study Week, Minggu Mengulangkaji, atau Minggu Tenang?

Hari Ke - 11 : (Anggap Saja) Tips Liburan ke Jepang