Grad School Is....Whatever.

Jadi ceritanya saya lagi stress berat sama pendidikan tinggi yang sedang saya jalani ini. Kadang ya saya suka mikir sebelum tidur, "what the hell was I thinking, getting into graduate school?". Saya tidak menyangka mau dapat gelar Master of Arts itu sungguh gak ada seninya, atau mungkin nilai seninya terlalu tinggi sampai saya gak ngerti, ehm, belum ngerti mungkin. 

Oiya, banyak yang nanya sebenarnya saya ambil jurusan apa sih di sini. Baiklah, sini saya jelaskan. Saya mengambil jurusan Komunikasi, sama seperti jurusan waktu saya degree (S1) dulu. Kenapa saya ambil jurusan ini? Alasan pertama adalah biar sama aja sama yang dulu. Kedua, tentu saja, saya cinta sama ilmu ini. Walaupun ilmu komunikasi menurut saya adalah bidang studi yang super galau dan agak serakah. Kenapa? karena semua dipelajari, mulai dari psikologi, sosiologi sampai bahasa. Serakah, ya karena banyak konsep dari ilmu-ilmu tadi yang diambil dan diadaptasi plus dipelajari dalam bidang komunikasi. 

Betapapun galau dan serakahnya ilmu komunikasi, pada dasarnya saya suka belajar komunikasi. Banyak yang berkomentar ketika tahu saya kuliah komunikasi. "'komunikasi belajar apa sih? mau jadi wartawan ya? "ntar abis kerja dimana?" Yah, ilmu komunikasi memang gak seterkenal kedokteran dan juga gak sekeren ekonomi, tapi komunikasi banyak melahirkan orang-orang keren. Eyaaaak...mulai narsis. 

Okay, kembali ke topik. Jadi, di tempat kuliah saya ini, jurusan Komunikasi untuk Graduate School atau Master's Degree ada tiga spesifikasi. Pertama, Communication, yang saya ambil, kedua, Environmental Journalism dan terakhir, Screen Studies. Untuk jenisnya, School of Communication menawarkan tiga jenis : research, coursework dan mixed-mode. Research maksudnya full penelitian, jadi untuk bisa tamat, mahasiswa gak perlu repot-repot datang ke kelas, cukup berkutat sama penelitiannya. Coursework pula, lebih menekankan projek dan tugas-tugas lain. Sistem kuliahnya mirip waktu ambil degree dulu. Ada kelas dan ujian akhir semester. Ada juga penulisan thesis, tapi bobotnya tidak setinggi yang dull research. Yang terakhir adalah mixed-mode. Wah, namanya saja sudah mixed, campuran. Campuran research dan coursework. Semester pertama kuliah harus mengambil bebrapa subjek lalu setelahnya, melakukan penelitian. 

Nah, yang terakhir adalah sistem yang saya ikuti sekarang. Mixed-mode, seperti namanya telah mencampuradukkan isi kepala saya. Sampai sekarang saya masih takjub karena saya bisa melewati semester lalu dengan hasil yang cukup memuaskan. Semester lalu ada dua subject (mata kuliah) yang harus saya ambil, dan semester ini, satu subject plus thesis. Duh, yang terakhir itu sungguh bikin merinding. Bukan apa-apa, saya sama sekali tidak punya pengalaman berkutat dengan thesis. Dulu waktu degree, syarat kelulusan adalah FYP (final year project) yang lebih kepada tugas (membuat berita dan artikel serta paper seminar). Tidak ada yang namanya research question, objectives, hypothesis aataupun literature review. 

Saya harus mengakui kalau proses belajar sebagai mahasiswa master sungguh tidak mudah. Pressurenya beda, suasana kelasnya apalagi. Dalam kelas setiap orang membawa diri masing-masing, punya tujuan berbeda dan dengan pengalaman serta masalah hidup yang beda pula. Teman sekelas saya bukan lagi anak-anak yang dalam kelas kerjanya baca majalah dan bergosip di bangku paling belakang, lalu keluar kelas sambil tertawa riang lalu ramai-ramai makan siang di sekitar kampus atau di luar kampus. 

Sekarang, tiap pulang kelas (yang isinya hanya beberapa orang dan didakan di malam hari) selalu mikir "duh, gimana ya itu yang barusan dipelajari aplikasinya ke thesis?" atau "oiya, tugas yang itu belum siap, jurnalnya belum siap dibaca, referensi masih kurang kayaknya." Lalu pulang ke kamar, sampai di kamar udah ngantuk. Lalu tidur sebenatar dan terbangun pagi buta, membaca dan mencoba menulis. Kadang ketika pagi buta saya terbangun dan berhadapan dengan segala jurnal dan textbook saya masih terbersit "what the hell am I doing?". 

Salah satu dosen saya pernah bilang "grad school is actually a very lonely process of learning". Oh, yes it is! kemana-mana sendirian, mulai dari makan, ke perpus, buat tugas, bahkan tak jarang ngomong pun sendirian. Eh, kok jadi seram ya? :P 
Well, sebenarnya bisa saja tetap berkomunikasi dengan teman sekelas, saya pun tetap melakukannya, untuk sekadar bertanya soal kuliah atau menghindari kegilaan, setidaknya saya berinteraksi dengan orang, bukan dengan buku dan laptop saja. 

*sigh* 

Tapi harus saya akui juga sebenarnya hidup saya sekarang tidak se-pathetic itu. Saya masih bisa mencari hiburan saya sendiri kok, seperti mengisi teka-teki silang di sela-sela membaca jurnal, menonton drama Korea sembari membuat tugas (yang biasanya lebih lama nontonnya daripada nulisnya), membaca novel atau majalah di perjalanan menuju perpustakaan. Dan tentu saja, nge-tweet aneh-aneh. :))

Oiya, hiburan baru saya adalah PhDComics, sebuah website yang isinya comic strips tentang kehidupan para mahasiswa postgraduate. Dan ini adalah dua postingan favorit saya: 



Maka, saran saya untuk teman-teman di luar sana, berpikir lah matang-matang untuk meneruskan pendidikan. Dan untuk adik-adik yang masih kuliah S1, bersenang-senanglah, nikmati waktu kalian. Kuliah degree adalah masa-masa kuliah paling indah. 

P.S : ini bukan posting tentang penyesalan, tapi ini naskah curhat dan penghibur diri sendiri. :D 

Comments

Fandi Abdullah said…
Entah kenapa, aku suka dengan quote ini "grad school is actually a very lonely process of learning". Sadis yah ndok :))
ananda said…
hahaa emang sadis beliau pan. dan kalimatnya itu betul sekaliii.. :D

Popular posts from this blog

Itazura na Kiss : Love In Tokyo

Study Week, Minggu Mengulangkaji, atau Minggu Tenang?

Hari Ke - 11 : (Anggap Saja) Tips Liburan ke Jepang