Ketakutan saya

Hello, long time no post...
Lagi2 saya lagi heboh sama multiply. Hmm...sangat tidak konsisten.

I was wondering, akan jadi apakah saya nanti? setelah menyelesaikan sekolah maksudnya. Pikiran ini selalu muncul dalam pikiran, apalagi semester depan saya udah jadi 'budak tahun 2'. Means, tinggal dua tahun lagi saya udah bisa jadi sarjana komunikasi. Dua tahun itu gak terasa, teman!

Okay, sekedar berangan-angan nih, saya punya beberapa option saya akan jadi apa.

1. Jurnalis
Pastinya. Karena saya emang kuliah di jurusan komunikasi (lagi nunggu pengumunman major). Tapi saya jadi mikir, apakah saya mampu? dengan daya ingat yang kadang2 bermasalah, analisis yang tidak terlalu dalam, serta amat sangat suka menggunakan 'personal opinion'. Apakah saya bisa menjadi seorang yang jurnalis, yang mengemukakan sura hati rakyat dan mampu melihat masalah yang terjadi dengan segala perspektif, dan yang tidak kalah penting: netral. Yeah, jurnalis adalah mahluk netral.
Apakah jadi jurnalis cukup dengan bisa menulis dan memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar?

2. News Anchor
Ini sih mirip2 jurnalis lha ya kan?! bedanya ini jurnalis TV. Dan amat sangat mustahil saya bisa jadi news anchor kayak Tante Desi Anwar, walaupun nama belakang kami sama2 Anwar. Dari segi wajah aja udah gak mungkin. Wajah ini penuh dengan jerawat, plus berminyak kalo udah lasak sikit. Belum lagi tinggi saya gak nyampek 150cm, dan mata berminus!
Bisa2 acara berita TV gak ada yang nonton gara2 ketakutan lihat wajah saya di TV.

3. Presenter Infotaiment
Hmm...sama aja kayaknya! walaupun saya suka gosip, tapi wajah saya emang gak cocok buat orang2 di depan layar. Lagian, presenter infotaiment itu make up nya gak nahan... setebal kulit badak. Belum lagi baju yang dipakai sering memperlihatkan 'jakun wanita' itu.
Hmm...ini bukan pilihan pekerjaan yang cocok unyuk saya.

4. Tentor alias guru les
Waduh, mau ngajar apa ya?! Matematika kacau balau, apalagi fisika. Kimia? oh, God. Aku aja udah lupa unsur kimia gologon IA. Ekonomi? yah, saya anak IPA dulu, dua tahun lamanya gak belajar ekonomi. Bahasa Indonesia? Mungkin bisa, tapi saya harus siap untuk gak diperdulikan oleh murid2. Karena ini emang pelajaran yang jarang diperhatikan oleh rakyat Indonesia sendiri, kecuali aku. Hahahaa...
Pernahkan kalian berpikir kalo bahasa Indonesia itu adalah harta kita sebagai bangsa Indonesia. Coba kalo bahasa kita dihakpatenkan oleh negara lain? kayak seni dan budaya kita. Mungkin sedikit ornag yang aware kalo hal itu terjadi. Karena emang sedikit orang Indonesia yang mengerti bahasa Indonesia sesuai EYD. Bahkan membedakan ''kami' dan 'kita' pun susah!
Okay, back to teh etopic.
Jadi tentor bahasa Inggris? walah, perasaan makin hari bahasa Inggrisku makin kacau balau aja!
Lagi2, pekerjaan ini tidak cocok untuk saya.

5. Pemilik Usaha Bakery
Ini nih impian saya dulu kalo misalnya gak bisa kerja kantoran karena pas zaman SMP saya hobi buat kue. Hehehehe...
Tapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari kalo saya gak cocok jadi tukang jualan, pemilik perusahaan, dan segala hal tentang ekonomi, perdagangan. Alasannya, karena saya orang Aceh, bukan orang Padang. Hehe,,gak ding!=)

6. Pramuniaga Toko Kaset dan CD
Nah, ini bolehlah. Kan asik tuh, siapa tau tiap akhir bulan bisa dapet CD gratis. Hihihii... Tapi, hey hello...jauh2 sekolah ke Malaysia kok jadi gini aja? kasian Mama dan Ayah. Kalo part time bolehlah...
So, ini juga out dari pilihan pekerjaan.

Jadi apa ya aku ini? Menggunakan Adobe Photoshop, Flash, dan lain sebagainya aku gak bisa. Maen musik gak bisa, nyanyi apalagi.
Satu2nya bahasa asing yang bisa cuma Bahasa Inggris, itu pun kadanga paok2. Bahasa Jerman yang saya pelajari juga gak ada progress, hanya berbekal ilmu pas SMA kelas tiga dulu. Oh, God...menyedihkan seklai hamba-Mu ini.

Okay, dengan segala ketidakmampuan saya, mungkin saya lebih cocok jadi: ibu rumah tangga. Yang tinggal di rumah, nyuci, masak, nyapu, ngepel, ngurusin anak2, nonton sinetron dan gosip sambil menunggu anak2 pulang sekolah dan suami pulang kerja.
Oh, wait! ini pun saya tidak bisa. Saya tidak bisa masak. Bisa2 anak anak dan suami saya cuma makan indomie, McD, dan fast food lain yang memberikan jasa delivery.
Hmm...bisa juga suami saya jadi gak pernah pulang, atau yang lebih parah, saya akan DIMADU karena gak bisa masak. Hwuaaa.........................

Oh, no! saya benar2 tidak bisa apa2. Tidak punya bakat dan keahlian spesifik. Saya akan jadi apa?
Bisakah saya menghadapi dunia yang penuh persaingan ini?
Bisakah saya menyumbang sesuatu untuk bangsa dan negara ini?
Apa yang akan saya berikan untuk Ayah dan Mama?
Apa kebanggaan yang bisa saya berikan untuk diri sendiri???

Saya takut, benar2 takut.

Comments

Popular posts from this blog

Itazura na Kiss : Love In Tokyo

Study Week, Minggu Mengulangkaji, atau Minggu Tenang?

Hari Ke - 11 : (Anggap Saja) Tips Liburan ke Jepang